Konser Inaugurasi AFI antiklimaks?

Kami sekeluarga selalu menonton Konser AFI setiap Sabtu, dan kadang2 Diari AFI di hari2 yg lain. Memang, kami baru mulai memperhatikan AFI ini setelah konser ke 6, jadi ngga dari awal2 banget. Tapi, boleh jugalah ya, ngasih komentar sedikit mengenai Konser Inaugurasi AFI yg diadakan Indosiar hari Sabtu kemaren.

Selama ini, perjalanan AFI selalu memberikan hasil yg klimaks. Setiap minggu, selalu ada peserta yg dieliminasi, yg merupakan puncak acara setiap konser. Pada saat final, dengan 3 peserta (Veri, Kia, Mawar), jelas sekali terasa bahwa Konser Final itu adalah puncak dari seluruh rangkaian acara AFI, dengan segala kemeriahan, dengan acara yg diadakan di JHCC, dst.

Yang menarik, coba kita bandingkan dengan Konser Inaugurasi AFI hari Sabtu kemaren. Kesannya acara ini dibuat seadanya, malah tanpa persiapan yg baik. Dari awal langsung keliatan banget bedanya dengan Konser Final. Pertama, acara diadakan di KTS, yg pasti daya tampungnya lebih kecil daripada JHCC. Apalagi ditambah dengan panggung yg biasa2 saja.

Kedua, sound system yang sangat buruk. Sewaktu nyanyi ber-12, terlihat sekali bahwa ada bbrp mikrophon yg tidak hidup, sehingga harmoni suara mereka aneh sekali. Juga waktu mbak Bertha bernyanyi “We are the champion”, seharusnya ke-12 peserta jadi backing vokal. Tapi, krn mikrophon mereka mati, jadinya aneh sekali hanya kedengaran suara mbak Bertha yg sedang mengambil nada tinggi.

Ketiga, nice try untuk koneksi langsung ke RS Tarakan. Kenyataannya, link-up satellite nya mati. Benar2 memalukan.

Keempat, persiapan peserta sangat buruk. Beda sekali dengan konser2 sebelumnya, kali ini para peserta tampil seadanya, kalau ngga bisa dibilang buruk. Bernyanyi dalam grup2 kecil, keliatan sekali ketidakkompakan mereka. Rasanya ini bukan krn ada masalah pribadi antar peserta, tapi lebih krn kurangnya latihan. Apa kelamaan di Bali mungkin?

Kelima, penyerahan piala AFI ke semua peserta, KECUALI pada Veri. Alasannya, krn Veri sudah menerima piala tsb di malam final. Apa2an ini? Kan bisa aja sebelum acara, Veri diminta untuk membawa pialanya, supaya dia bisa pegang barengan peserta yg lain. Jadinya aneh banget, krn cuman Veri yg ngga pegang piala, sementara yg lain dengan bangga memegang pialanya.

Keenam, mengirimkan Kia, Rini, dan Smile ke RS Tarakan memang menunjukkan rasa kepedulian AFI pada musibah demam berdarah. Tapi rasanya tanggung sekali, hanya berbentuk kunjungan. Kenapa Indosiar tidak dengan sukarela misalnya, memberikan hasil revenue di Konser Inaugurasi ini untuk mengganti biaya deman berdarah, misalnya? Pasti hasilnya jauh lebih relevan untuk para pasien dan korban.

Keenam hal di atas udah cukup menunjukkan bahwa penyelenggara kesannya ngga niat ngadain Konser Inaugurasi ini. Apa mungkin tadinya tidak ada rencana sama sekali untuk acara ini? Mungkin rencana awal, Konser Final adalah malam terakhir. Tapi tiba2 ada rencana untuk melakukan “Inaugurasi” alias “wisuda” dengan embel2 nama “AFI”.

Tapi bukan berarti AFI secara keseluruhan jadi tidak bagus. AFI mungkin salah satu dari sedikit acara di TV Indonesia yg masih menarik untuk ditonton. Walaupun mencontoh American Idol (dan Pop Idol dari Inggris), tapi Indosiar berhasil membuat sesuatu yg berbeda dari acara aslinya, sehingga jadi jauh lebih menarik. Apalagi ditambah dengan Veri sebagai juara, yang “From Zero to Hero” diistilahkan oleh salah satu tabloid.

Jadi, kita tunggu acara AFI seri 2 minggu depan. Apakah bisa memperbaiki kesalahan2 di AFI pertama ini? Apa bisa bersaing dengan Indonesian Idol dari RCTI? Kita tunggu tanggal mainnya.