Selamat Jalan, Pak Darus!

Standard

Saya adalah orang yang jarang nangis, apalagi di depan umum. Terakhir kali nangis di depan umum itu waktu Eva dan Joan ada di Rumah Sakit, dua-duanya di ICU/NICU. Di acara pemakaman keluarga dekat sekalipun, saya tidak menangis. Bukan karena sok tegar atau malu nangis, tapi memang tidak sampai “tersentuh” untuk menangis.

Tapi dengan Pak Darus, saya tidak bisa menahan air mata. Ketika dia awalnya masuk UGD (di RS Premier Bintaro), saya belum menangis, karena saya kira hanya sakit biasa. Saya baru menangis ketika dokter mengatakan bahwa terjadi pendarahan di otak karena pembuluh darah yang pecah. Saya tau artinya apa. Kemungkinan sembuh kecil, dan kalaupun sembuh tidak akan 100% pulih.

Ketika Pak Darus masuk ICU di RS Medika BSD (karena ICU di Bintaro penuh), dan dokter saraf (neurolog) kembali menjelaskan kecilnya kemungkinan sembuh, saya kembali menangis. Ketika menjenguk beberapa kali ke RS selama 2 hari kemudian, saya selalu menangis. Bahkan di rumah pun saya menangis karena ingat Pak Darus.

Mungkin rekan-rekan bertanya, siapa sih Pak Darus ini? Buat orang lain mungkin dia bukan siapa-siapa, “hanya” salah seorang ART (Asisten Rumah Tangga) di rumah kami. Tapi untuk kami, dia sudah seperti keluarga sendiri. Sejak bekerja dengan kami 6 tahun yang lalu, tidak pernah sekalipun saya lihat dia marah, selalu tersenyum. “Tenang saja, nanti Pak Darus yang atur, percaya sama Pak Darus”, selalu dia bilang dengan logal Jawa kental kalo kami memberikan instruksi apapun.

Dia juga dekat dengan Joan dan Amy. “Yang pintar ya Joan” selalu dia memberi semangat ke Joan kalo Joan lagi terapi di rumah. Amy selalu “siram siram” (baca: menyiram bunga di halaman) dengan Pak Darus. Bahkan sampai sekarang pun (lebih dari 10 hari sejak meninggal), Amy masih menyebutkan nama Pak Darus kalo lagi berdoa untuk tidur.

“Job desc” resmi nya “hanya” lah merawat tanaman di halaman dan mengurus hal-hal kecil di rumah, seperti mengurus gas dan air minum, bertukang kecil2an, ngepel ruang keluarga dan tangga, dll. Tapi dia juga bertanggung jawab antar-jemput anak2 Bang Rudy ke sekolah (satu kompleks dgn kami), kadang2 antar/jemput les, atau antar/jemput anak2 Wiwi dan Tesa kalau lagi perlu mendadak. Sering juga dia diminta menjaga rumah kalau sedang ada tukang. Jadinya dia juga dekat dengan keluarga Bang Rudy, Wiwi dan Tesa.

Dengan keluarga kami yang lain, baik di Jakarta ataupun dari luar kota, Pak Darus juga dikenal. Dia selalu menjadi salah satu “seksi sibuk” di acara keluarga, acara apapun. Ketika dia masih di ICU, semua keluarga ikut mendoakan.

Semua orang bilang Pak Darus itu orang yang baik dan rajin senyum. Bahkan ketika dia meninggal pun dia tidak merepotkan siapa-siapa. Pak Darus meninggal jam 1 pagi, sehingga tidak ada kemacetan yang kami lalui dari rumah ke BSD. Bolak-balik. Petugas transportasi jenazah yang membawa Pak Darus ke Wonosobo juga jadi tidak terjebak macet, karena masih subuh berangkat dari Jakarta, dan bisa tiba dengan cepat di Wonosobo karena belum masuk musim mudik. Kami datang juga ke Wonosobo, naik pesawat ke Jogja dan naik mobil ke Wonosobo. Tiba di Wonosobo jam 5 sore, langsung acara penguburan, dan selesai sebelum waktu berbuka. Semua lancar, dan tidak ada yg direpotkan. Luar biasa.

Sekarang di rumah terasa lebih sepi. Bukan hanya karena tidak ada Pak Darus secara fisik yang sering “ribut” dan melucu, tapi juga secara emosi memang ada yang “hilang”. Mencari pengganti Pak Darus untuk bekerja di rumah mungkin tidak mudah, tapi mencari penggantinya di dalam ingatan kami adalah tidak mungkin.

Selamat Jalan, Pak Darus! Engkau selalu ada dalam ingatan kami.