Mengapa (kita) senang menyebarkan hoax?

Saya sering sekali bertanya-tanya, kenapa banyak orang yang senang sekali menyebarkan hoax? Tapi sebentar dulu, apa arti “hoax” itu sebenarnya?

Menurut Wikipedia: “A hoax is a deliberately fabricated falsehood made to masquerade as truth. It is distinguishable from errors in observation or judgment, or rumors and urban legends that are passed along in good faith by believers or as jokes.” Dalam Wikipedia versi Indonesia, “hoax” diterjemahkan menjadi “pemberitaan palsu”.

Sudah sering pasti kita menerima berita-berita aneh atau mengerikan lewat SMS, email, Blackberry, Facebook, dll. Kadang-kadang saya menganggapnya angin lalu saja, diabaikan saja, karena toh tidak merugikan siapa-siapa. Tapi dua kejadian terakhir menurut saya sudah agak kelewatan.

Ketika gempa dan tsunami menerjang Jepang utara tgl 11 Maret 2011, dengan cepat saya menerima sebuah pesan di Blackberry saya yang menyebutkan bahwa Indonesia harus bersiap-siap, karena tsunami akan mencapai Indonesia. Lengkap dengan jam untuk masing-masing wilayah, mulai dari Indonesia Timur, sampai Jakarta. Nah, disinilah kelebihan hoax: dengan sukses mencampurkan fakta dengan tambahan bumbu-bumbu penyedap berupa fiksi. Memang benar, peringatan tsunami diumumkan untuk Indonesia, khususnya Indonesia timur, karena Indonesia timur berhadapan langsung dengan Jepang melalui Samudera Pasifik. Jadi, titik-titik di utara Sulawesi, pulau-pulau Utara dari Kepulauan Ambon, utara Papua, dan juga pulau-pulau kecil lainnya di utara Indonesia timur akan mendapatkan tsunami. Hanya saja, ditambahkan bumbu penyedap: mulai dari tinggi gelombang yang sudah langsung disebutkan (padahal BMKG sendiri tidak bisa memprediksi) dan juga memperluas cakupan tsunami sampai ke Jakarta!

Luar biasa! Akibatnya, muncul kepanikan di Jakarta (dan kota-kota besar lainnya).

Satu lagi saya terima tadi malam, bahwa dengan meledaknya reaktor nuklir di Jepang utara akibat gempa, maka kita di Indonesia harus berhati-hati bila hujan, karena hujan yang terjadi akan membawa partikel radioaktif. Jadi, disarankan untuk selalu menggunakan payung. Lagi-lagi, pencampuran fakta dan fiksi. Memang benar, ada 3 reaktor nuklir di Jepang yang meledak akibat gempa. Akan tetapi, dampak radioaktif nya masih terkendali. Bahkan salah satu artikel di CNN menyebutkan bahwa paparan radiasi bila kita diperiksa dengan CT Scan masih jauh lebih besar daripada hasil catatan radiasi di pintu gerbang ketiga reaktor nuklir tersebut. Apalagi kalau diukur di Indonesia!

Memang masih ada kemungkinan terjadi hal yang lebih parah di ketiga reaktor nuklir tersebut, karena sampai saat ini, semua pihak masih berusaha menanganinya. Tetapi tentunya itu adalah skenario terburuk yang masih belum pasti, dan dampaknya juga masih belum dapat diperkirakan. Dan percaya lah, kalau memang terjadi hal tersebut, menggunakan payung ketika hujan tidak akan membantu!

Oleh karena itu, untuk rekan-rekan sekalian, saya mohon dengan sangat, apabila menerima berita-berita aneh, baik itu melalui SMS, email, Blackberry, Facebook, ataupun jalur-jalur lain, harap mengikuti langkah-langkah sederhana ini:

  1. Duduk diam, tarik napas, jangan panik. Ini langkah yang penting, karena kalau kita sudah panik, maka langkah apapun yang akan kita ambil berikutnya akan dikendalikan oleh emosi dan bukan logika.
  2. Tanyakan ke pengirim berita, dari mana sumber berita tersebut dia terima.
  3. Apabila sumber berita sudah diketahui, maka sempatkan diri untuk membaca sendiri sumber berita tersebut. Kalau pengirim berita tidak tahu sumbernya, manfaatkan mesin pencari di Internet untuk mencari sendiri kebenaran berita tersebut.
  4. Apabila berita tersebut tidak benar, jangan sebarkan kembali ke orang lain. Apabila pun berita itu benar, sebelum menyebarkan ke orang lain, pikirkan terlebih dahulu: apakah dengan menyebarkan berita tersebut akan memberikan dampak positif atau justru dampak negatif.

Semoga memberi manfaat.

Catatan: entah kenapa, saya yakin, bahwa blog “rasional” seperti ini justru tidak akan disebarluaskan oleh orang-orang. Dan pada akhirnya, pasti tetap saja anda (ya, anda!) akan tetap menyebarkan hoax berikutnya yang anda terima. Tapi setidaknya saya telah berusaha Smile.